betul kata erk, hidup tak selamanya linier.
Kembali lagi ke perantauan adalah berarti perpisahan. Saya menghabiskan waktu tiga minggu kurang lebih di Bandung dalam masa liburan di kampus saya. Kembali ke Bandung berarti perjumpaan kembali dengan orang-orang terkasih. Saya sempat menghabiskan waktu dengan teman-teman saya, kami bermain futsal, menghabiskan malam dengan bernyanyi nyanyi hingga tengah malam diiringi gitar listrik yg menggunakan portable amplifier. Sempat juga menghabiskan waktu dengan sahabat saya dan kekasih nya, perbincangan ringan yg cukup serius disaat waktu makan siang, mengabadikan beberapa momen indah yg tidak begitu penting, dan diakhiri dengan rasa puas melihat hasil jepretan kamera-kamera plastik yg kami gunakan. Banyak waktu juga dihabiskan bersama keluarga saya. Saya sempat pergi ke kuningan untuk menghadiri acara keluarga dan membantu mengurusi urusan rumah tangga karena si bibi sudah balik ke kampungnya dan menurut kabar yg saya dengar sudah membuka warung dengan omset yg lumayan, hehe.
Kembali ke kampung halaman juga berarti bertemu kembali dengan kekasih saya. Kami menghabiskan cukup banyak waktu bersama walaupun memang, tidak pernah cukup seluruh waktu di dunia ini untuk kita agar selalu bersama. Pertemuan kita pun tidak selalu berlangsung manis, ada saja yg membuat pertemuan menjadi pahit, tapi kita tahu apa yg bisa membuat pahit itu manis kembali, tidak terlalu manis, juga tidak kurang manis. Manis yg pas, juga hangat. Dan semua pertemuan itu akhirnya harus diakhiri dulu, karena saya harus kembali merantau untuk dijejali ilmu ilmu yg mungkin berguna nantinya.
Dan akhirnya kami kembali menekuni service yahoo messenger, pesan singkat, telefon, tanpa pertemuan. Dan terima kasih kepada biaya gprs yg cukup murah dan handphone bekas yg cukup modern, untuk saya pribadi bisa meminimalisir biaya pengeluaran untuk pembelian pulsa, dan untuk kami, berarti bisa terus berkomunikasi tanpa harus menggunakan jasa pesan singkat yg relatif lebih mahal daripada biaya gprs. Intinya sih, jadi lebih irit bisa chating pake henpon sekarang mah, hehe.
Tidak henti hentinya pula, cobaan terus saja datang. Ada saja perilaku bodoh saya yg membuat dia malas, kesal, marah, benci, dan perasaan perasaan buruk lainnya. Tapi kebesaran Tuhan memberikan kekasih terkasih saya kesabaran yg tidak bertepi, dan berjuta maaf pun selalu dia maafkan.
Mungkin memang benar adanya bidadari yg terjatuh ke bumi, dan saya yakin, kekasih saya itu adalah bidadari yg sepertinya terjatuh ke bumi dan langsung diberi titah oleh Tuhan untuk menjadi pendamping saya, pendamping hidup saya, dan memapah saya jalan untuk kembali ke rumahnya, rumah para bidadari di atas langit ke tujuh, di tempat abadi bernama surga.
Amin. Annisaa Adha Nurrewa, heaven knows how much i love you. (lagu yah ini?)
*terima kasih buat bu niken udah nge reblog post saya. waaaah, senangnya. hahaha.