November 20, 2009

ketika udara tidak lagi sama.

Aneh sekali akhir-akhir ini, cuaca kota Cyberjaya tidak seperti biasanya. Terik matahari hilang, terganti dengan awan mendung. Udara gerah pun hilang pergi entah kemana, angin dingin sekarang mengganti kekosongannya. Hal ini membuat saya ingin sekali kembali ke kota tempat kelahiran saya. Kembali ke rumah.

Cuaca yg membuat hujan terus datang seperti ini mengingatkan saya akan indahnya kota kelahiran saya, dan semua aspek yg hidup maupun tidak hidup yg menempati tanah nya. Saya rindu kamar kecil saya yg hanya memiliki satu jendela kecil, saya rindu rumah kecil tempat saya tinggal selama 18 tahun lamanya, saya rindu keluarga saya, saya rindu teman-teman saya, saya rindu menghabiskan waktu bersama mereka, dan tentu saja, saya rindu kekasih saya, calon istri saya kelak, dan menghabiskan banyak waktu dengannya. Kala panas, dingin, terik, dan hujan. Panas akan menjadi sejuk bila bersamanya, dingin akan menjadi hangat bila bersama nya, dan dia adalah tempat berteduh saya saat terik dan hujan.

Saya betul-betul rindu. Pulang, dan menghabiskan waktu bersamanya. Walaupun kita sama-sama tau, semua waktu di dunia ini, tidak akan pernah cukup untuk kita habiskan bersama.

November 18, 2009
November 17, 2009
Kamu teh kaya si Dillinger ya, bangor, rehe, tapi tetep melankolis kalo ke cewe.
Sang kekasih hati.
November 17, 2009

drop down tears

Beberapa hari belakangan ini, bukan hari-hari terbaik saya. Bahkan berpotensi untuk menambah catatan hari-hari buruk saya. Kekasih saya yg saya cintai kembali kesal akan kelakuan saya, dan mencoba lepas dari pelukan saya. Kekesalan dia sudah mencapai puncaknya. Kesabaran yg dia tahan selama ini, kesabaran yg tak terbatas ternyata memiliki batas halus yg kecil yg akhirnya terbelah.

Sudah beberapa kali dia membuat tenggorokan saya seperti ada batu di dalamnya. Dingin, besar, kasar. Tidak berani saya membuka mulut, tidak ingin saya mendengarkan lagu, yg saya inginkan hanya pernyataan kalau kita itu baik-baik saja, kalau kita akan kembali seperti biasa, dan menggapai kebahagiaan bersama.

Saya sekarang betul betul berharap kalau kita akan baik baik saja, kalau kita akan selalu bersama, kalau kita akan menggapai mimpi bersama.

”..dont go away, say what you say
say that you’ll stay..”

-Oasis-

”..to die by your side,
is such a heavenly way to die..”

-The Smiths-

Aku berharap kita bisa selamanya bersama, sampai nanti ketika aku dipanggil kembali oleh Yang Maha Kuasa, aku sedang berada di sisi mu.

Aku sayang kamu, selalu, Annisaa Adha Nurrewa

November 14, 2009

hujan.

Hari ini akhirnya saya membeli monitor baru untuk pc saya. Horeee. :p Setelah lama tersimpan di dalam lemari saya yg tak berpintu, sang pc kembali menggagahi dunia persilatan. HAHAHAHAHAHA.

Ok! Cukup tentang saya. Yg ingin saya jadikan bahan untuk menulis adalah tidak lain dan tidak bukan kekasih saya yg sangat saya cintai. :*

Hari ini, saya mendapat kabar kalo di Bandung sedang menghadapi pancaroba, dan sekarang, adalah saatnya hujan mengguyur tanah Bandung, mungkin matahari sudah lelah terus-terusan menghangatkan Bandung, ato mungkin memanaskan?

Hujan akan selalu menggantungkan angin dingin di tiap rintik basahnya dan membawa butiran-butiran rindu yg mengambang di atas langit. Hanya mengambang, tak terjatuh bersama tetes hujan, tak juga terhembus bersama angin. Mengambang, tak tersentuh, tak tergapai.

Hari ini, tak hanya hujan saja yg membuat rasa rindunya telah besar, semakin besar. Satu buah lagu dari satu dari sedikit band berlabel major yg berkualitas, menambah rasa rindunya semakin tak tertahankan, dan ya, saya pun ingin sekali bertemu dengan nya, dan menghabiskan waktu dengannya.

Lagu itu pun dia dedikasikan untuk saya. Satu bait yg luar biasa berbunyi seperti ini.

Aku disini
Mengingat dirimu
Ku menangis tanpa air mata
Bagai bintang tak bersinar
Redup hati ini

Dan ya, betul, kau adalah cinta terakhirku.